PEPO.id - Istilah "masuk angin" sudah dikenal luas dan umum digunakan oleh masyarakat Indonesia. Meski tidak diakui secara medis, kondisi ini kerap dikaitkan dengan rasa tidak enak badan, kembung, pegal, hingga mual. Salah satu cara paling populer untuk mengatasinya adalah dengan kerokan.

Banyak orang percaya bahwa kerokan lebih ampuh menyembuhkan masuk angin ketimbang minum obat. Prosesnya pun cukup sederhana, hanya membutuhkan benda tumpul seperti koin dan minyak gosok. Namun, benarkah cara ini terbukti manjur dan tidak membahayakan?

Sebelum membahas soal efektivitas kerokan, penting untuk memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan masuk angin. Dalam dunia medis, istilah ini sejatinya tidak dikenal.

Baca Juga: Masuk Angin Penyakit yang Sering Dianggap Remeh, Ini Penyebab dan 5 Cara Mengatasinya

Kondisi yang disebut sebagai masuk angin biasanya menggambarkan kumpulan gejala seperti badan meriang, nyeri otot, sakit kepala, perut kembung, hingga sering buang angin. Tanda-tanda yang muncul sering menyerupai flu atau gangguan infeksi ringan lainnya.

Meski istilah medisnya tak ada, masyarakat tetap menjadikan kerokan sebagai solusi cepat. Metode ini melibatkan penggosokan koin atau benda serupa di punggung menggunakan pelicin, seperti minyak telon atau minyak kelapa.

Proses kerokan dipercaya dapat “mengeluarkan angin” dari tubuh. Semakin merah guratan di kulit, masyarakat meyakini bahwa angin yang keluar makin banyak. Efek setelahnya pun sering digambarkan sebagai badan terasa lebih segar dan ringan.

Baca Juga: Cara Mengatasi Perut Kembung Menjelang Menstruasi, Berikut Anjuran Ahli Gizi

Secara medis, praktik kerokan ternyata bisa dijelaskan secara rasional. Ketika kulit digosok dengan tekanan, suhu tubuh akan meningkat dan menyebabkan pelebaran pembuluh darah.

Kondisi ini memperlancar peredaran darah atau oksigenasi, yang memang bisa membantu meredakan keluhan nyeri otot dan rasa tidak nyaman di tubuh. Efek relaksasi dari kerokan juga dapat memengaruhi suasana hati dan sistem imun.

Namun, perlu diingat bahwa manfaat ini hanya bersifat sementara dan tidak menyembuhkan penyakit penyebabnya. Oleh karena itu, kerokan sebaiknya dilakukan dengan bijak dan tidak sebagai solusi utama.

Baca Juga: Waspada Penyakit Jantung! Berikut 9 Cara Menjaga Jantung Tetap Sehat Sejak Usia Muda

Selain itu, ada risiko di balik kebiasaan kerokan yang perlu diwaspadai. Proses menggosok kulit bisa membuka pori-pori dan meningkatkan risiko infeksi bakteri atau virus jika tidak dilakukan dengan higienis.

Sering melakukan kerokan juga bisa menyebabkan iritasi kulit. Apalagi jika kulit sensitif atau memiliki kondisi medis tertentu, seperti gangguan pembekuan darah.

Penting untuk mewaspadai bahwa gejala yang menyerupai masuk angin bisa saja mengindikasikan kondisi kesehatan yang lebih serius. Misalnya, jika seseorang merasakan mual, muntah, dan nyeri dada bersamaan, maka sebaiknya tidak melakukan kerokan.

Baca Juga: Waspada! Ternyata Serangan Jantung Gejalanya Ada yang Sama dengan Sakit Maag, Berikut Persamaannya

Keluhan tersebut mungkin merupakan gejala awal serangan jantung, bukan hanya masuk angin biasa. Oleh karena itu, pemeriksaan ke dokter sangat disarankan dalam kasus seperti ini.

Jika tubuh terasa tidak enak selama beberapa hari dan disertai gejala lain yang tidak biasa, kerokan bukanlah jawaban. Segera konsultasikan dengan tenaga medis.

Meski begitu, kerokan tetap melekat sebagai salah satu tradisi pengobatan khas masyarakat Indonesia. Selama dilakukan dengan hati-hati dan tidak berlebihan, kerokan masih bisa dimanfaatkan sebagai terapi pendamping.

Baca Juga: Kesehatan Jantung dan Konsumsi Kopi: Manfaat dan Resiko yang Wajib Diketahui

Namun, ingatlah bahwa istirahat cukup, menjaga pola makan, dan konsumsi cairan juga sangat penting untuk memulihkan kondisi tubuh saat sedang tidak fit.

Sebagai penutup, kerokan memang bisa membantu meringankan gejala masuk angin. Tapi jika gejala tak kunjung membaik, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter.