PEPO.id - sudah menjadi hal umum, saat bulan syawal banyak pasangan yang menikah.
Menikah di bulan Syawal menurut Islam merupakan bagian dari sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW sendiri menikahi istrinya Aisyah RA di bulan Syawal, menghapuskan mitos larangan menikah di bulan ini yang berasal dari zaman jahiliyah.
Larangan tersebut hanya merupakan mitos yang tidak memiliki dasar yang sahih dalam ajaran Islam. Sebaliknya, keutamaan menikah di bulan Syawal justru sangat dianjurkan dan dianggap sebagai tindakan yang baik dalam agama Islam, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa buku fikih dan ulama terkemuka.
Baca Juga: 10 Kuliner Khas Lamongan yang Wajib Dicoba, Kenikmatan Rasa Tiada Duanya
Menikah di bulan Syawal merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW dalam ajaran agama Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menikah di bulan Syawal ketika ia menikahi salah satu istrinya, yaitu Aisyah RA. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai tuntunan bagi umat Islam untuk mengikuti sunnah beliau.
‘Aisyah radiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan:
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ، فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي؟، قَالَ: ((وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ))
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR. Muslim).
Meskipun demikian, banyak yang keliru beranggapan bahwa menikah di bulan Syawal haram dalam Islam. Keyakinan ini sebenarnya salah dan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Larangan menikah di bulan Syawal sebenarnya berasal dari mitos yang keliru dan dipercaya oleh sebagian masyarakat.
Mitos larangan menikah di bulan Syawal bermula dari istilah syawal dalam bahasa Arab "Syawala" yang artinya mengangkat ekor atau tidak mau dikawin. Oleh masyarakat jahiliyah, bulan Syawal menjadi dipercaya bisa membawa petaka seperti pernikahan yang berujung pada perceraian.
Baca Juga: Selain Kewajiban Umat Islam, Berikut Manfaat Puasa untuk Kesehatan di Bulan Ramadhan
Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan mereka beranggapan bahwa unta betina mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha) pada bulan Syawal. Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para wali pun enggan menikahkan putri mereka.
Selain itu, mitos haramnya menikah di bulan Syawal berasal dari adanya wabah kolera yang pernah terjadi di bulan Syawal. Dalam buku berjudul Aisyah oleh Sulaiman an-Nadawi, masyarakat Arab pada zaman Jahiliyah beranggapan bahwa penyakit kolera terjadi di bulan Syawal sehingga mereka benci menggauli istrinya pada bulan itu.
Namun, setelah kedatangan ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, mitos haramnya menikah di bulan Syawal ini dipatahkan dengan pernikahan beliau dengan Aisyah RA di bulan Syawal. Maka demikian, tindakan menikah di bulan Syawal sebenarnya adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam dan tidak terdapat larangan atas hal tersebut.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, 3/235, Ibnu Katsir juga menjelaskan:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘ied (bulan Syawal termasuk di antara ‘ied Fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar.”***


