PEPO.id - Film Almarhum (2025) menawarkan kisah horor dengan akar budaya Jawa yang kental, terutama seputar mitos Selasa Kliwon sebagai hari sial.
Latar cerita dimulai dari pasar tradisional, memperkenalkan sosok juragan kaya bernama Mulyanto. Ia disegani karena kekayaan dan hasil kebunnya yang melimpah. Dalam kesehariannya, ia dikelilingi oleh anak-anaknya dan keponakannya, Ajeng, yang tinggal bersamanya dan membantu mengurus rumah.
Konflik awal muncul saat Mulyanto mendadak jatuh sakit menjelang hari wisuda anak keduanya. Ia mengeluh kedinginan meski hari terik, suatu pertanda janggal. Tanpa disadari, hari berikutnya adalah Selasa Kliwon, hari yang dalam kepercayaan Jawa dianggap membawa petaka, terutama jika seseorang wafat di hari tersebut.
Baca Juga: The Fantastic Four: First Steps, Film Superhero dengan Identitas Visual yang Kuat
Benar saja, saat hendak mandi subuh menggunakan pemanas air, Mulyanto tersetrum dan meninggal seketika. Kejadian ini mengguncang seluruh keluarga, mengubah hari bahagia menjadi hari duka yang mendalam.
Kehilangan Mulyanto membawa serangkaian konflik batin, terutama saat Pak Lurah menyarankan ritual pecah piring dan sebar bunga untuk mencegah arwah almarhum membawa anggota keluarga lain. Namun Sesa, anak sulung keluarga yang berprofesi sebagai dokter, menolak keras kepercayaan tersebut.
Pertentangan keyakinan ini memperlebar jurang di dalam keluarga. Yanda dan Nuri, dua anak lainnya, percaya pada saran Pak Lurah dan melanjutkan ritual, meskipun ibu mereka, Rahmi, tiba-tiba jatuh sakit dan menolak ikut serta.
Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan
Setelah pemakaman, kejadian-kejadian supranatural mulai menghantui rumah. Rahmi mendengar suara suaminya, mengalami halusinasi, hingga mengucapkan bahwa ia ingin ikut bersama almarhum. Tak lama kemudian, ia juga wafat secara misterius setelah melihat penampakan suaminya dalam wujud pocong.
Situasi makin genting. Sesa tetap keras kepala menolak ritual dan menuduh semua kejadian hanyalah stres dan depresi. Namun pengalaman supranatural yang ia alami saat jauh dari rumah, membuatnya mulai meragukan nalar medis yang selama ini ia pegang teguh.
Dalam suasana berkabung, keluarga menemukan petunjuk bahwa ada tanah kuburan yang disebar di setiap kamar. Ini membuka kemungkinan bahwa keluarga mereka telah menjadi korban santet. Nuri dan Yanda pun pergi ke Kampung Wiro Atus untuk menemui Mbah Sukma, seorang dukun yang dipercaya bisa membantu.
Dari Mbah Sukma, mereka mengetahui bahwa untuk membalikkan santet, mereka harus melakukan ritual “Topo Pendem” dengan mengorbankan darah mereka sendiri. Ritual dilakukan, namun tidak tanpa gangguan: angin kencang dan penampakan supranatural menyelimuti rumah saat prosesi berlangsung.
Sementara itu, terungkap bahwa pelaku santet adalah Suyono, kerabat yang menyimpan dendam terhadap Mulyanto. Ia memerintahkan Ajeng, anaknya sendiri, untuk menaruh tanah kuburan demi membalaskan sakit hati karena merasa keluarganya direndahkan.
Namun rencana jahat itu berbalik. Ajeng justru menemui ajal mengenaskan setelah kudanya lepas kendali dan menyeret tubuhnya. Dalam kondisi psikologis yang terguncang, Ajeng akhirnya menyesali perbuatannya sebelum meninggal.
Baca Juga: Petualangan Jumbo Bocah Pendongeng yang Menemukan Sahabat Hantu dan Keberanian di Atas Panggung
Setelah kejadian itu, Nuri dan Yanda memutuskan untuk tinggal di desa dan meneruskan semangat keluarga mereka. Mereka juga mencoba berdamai dengan kepercayaan lokal, menerima bahwa beberapa hal tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.
Film ini menutup kisahnya dengan twist halus, menunjukkan bahwa orang yang selama ini tampak membantu, yakni Pak Lurah, ternyata memiliki peran lebih besar dari yang terlihat. Kunjungannya yang dihormati oleh Mbah Sukma di akhir film membuka banyak tafsir baru.
Almarhum adalah film horor yang tak hanya menghadirkan ketegangan, tapi juga refleksi tentang keluarga, warisan, kepercayaan, dan benturan antara logika serta tradisi. Film ini berhasil menyuguhkan kengerian yang tak melulu dari setan, tapi dari perasaan kehilangan dan pengkhianatan dalam lingkup keluarga sendiri.
Baca Juga: Ratusan Orang Nyanyikan Terbuang Dalam Waktu Bareng Cast Film Sore dan Barasuara
