PEPO.id - Film drama terbaru berjudul Panggil Aku Ayah disutradarai oleh Benni Setiawan. Menampilkan Ringgo Agus Rahman, Boris Bokir, dan Sita Nursanti, film ini menyajikan cerita keluarga penuh emosi dengan sentuhan komedi yang mengharukan.

Cerita berfokus pada Intan, seorang gadis kecil yang diperankan dengan penuh penghayatan. Intan hanya memiliki ibunya, Rossa, yang diperankan oleh Sita Nursanti. Namun, kehidupan mereka jauh dari kata sempurna.

Rosa dan Intan terjebak dalam lilitan utang. Hidup mereka kian terpuruk saat dua penagih utang, Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir), datang menekan untuk segera melunasi hutang.

Baca Juga: Janur Ireng: Teror Misteri Arjo Kuncoro, Horor Terbaru Kimo Stamboel di Bioskop

Saat berada dalam situasi sulit, Rossa terpaksa menyerahkan Intan sebagai jaminan hutangnya. Malangnya, Intan akhirnya ditinggalkan dan harus tinggal bersama Dedi dan Tatang.

Dedi yang awalnya hanya melihat Intan sebagai “jaminan hidup” lambat laun merasakan ikatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari pertemuan tak disengaja, tumbuh kasih sayang yang tak terduga.

Film ini adalah adaptasi dari karya Korea berjudul Pawn, namun dikemas dengan latar budaya Sunda tahun 2000-an. Nuansa lokal membuat kisah ini lebih membumi dan dekat dengan penonton Indonesia.

Baca Juga: Tharae: The Exorcist, Horor-Thriller Thailand yang Siap Teror Penonton Indonesia

Kearifan lokal tersaji dengan kental melalui latar, bahasa, dan kebiasaan masyarakat Sunda yang dihadirkan dalam film. Meski ada sentuhan komedi, drama yang ditampilkan tetap terasa hangat dan penuh makna.

Karakter Dedi dan Tatang digambarkan unik, realistis, sekaligus mengundang tawa. Boris Bokir berhasil menghidupkan perannya dengan celetukan khas yang menjadi sumber komedi sepanjang film.

Walaupun diangkat dari film lain, Panggil Aku Ayah tetap berusaha menghadirkan identitasnya sendiri. Film ini menghadirkan adegan khas Indonesia, seperti makan sate hingga momen kebersamaan sederhana yang begitu lekat dengan budaya lokal.

Baca Juga: Avatar Fire and Ash: Pertarungan Panas Antar-Bangsa Na’vi di Tanah Vulkanik Pandora

Intan yang diperankan dengan apik oleh aktris cilik Myesha Lin berhasil mencuri perhatian penonton. Meski masih anak-anak, ia berhasil memerankan sosok bocah lugu yang harus menghadapi kerasnya dunia orang dewasa.

Kehidupan bersama Dedi, Tatang, dan Intan perlahan menciptakan rumah baru yang penuh dinamika. Dari awalnya hanya keterpaksaan, perlahan tumbuh rasa saling peduli yang menghangatkan.

Hubungan antara Dedi dan Intan digambarkan dengan penuh dinamika dan tantangan. Meski Dedi menyimpan kasih sayang, egonya sering menahan perasaan itu untuk diungkapkan.

Baca Juga: Sinopsis dan Daftar Pemain Film Weapons, Horor Sinting Penuh Misteri

Benni Setiawan sebagai sutradara berhasil menghadirkan drama yang tidak berlebihan. Adegan-adegan sederhana seperti mengantar sekolah, mengajarkan pelajaran, hingga merapikan rumah justru terasa sangat menyentuh.

Film ini memang sarat kesedihan, namun tidak ditampilkan secara berlebihan. Emosi yang muncul terasa alami, membuat penonton mudah hanyut dalam kisahnya.

Meski memiliki fondasi cerita yang kuat, beberapa adegan terasa dipanjang-panjangkan, terutama di bagian akhir. Namun hal itu tidak mengurangi kekuatan karakterisasi dan nuansa hangat yang ditawarkan.

Baca Juga: The Conjuring (Reissue) Kembali Hantui Bioskop Indonesia: Sinopsis dan Cast Lengkap

Dialog-dialog berbahasa Sunda terdengar natural dan menenangkan, meski penonton bukan berasal dari latar budaya tersebut. Kehadiran bahasa daerah membuat film ini semakin otentik.

Pada akhirnya, Panggil Aku Ayah bukan hanya kisah tentang utang dan penagihnya, melainkan cerita tentang keluarga yang lahir dari keterpaksaan, lalu berkembang menjadi ikatan kasih sayang yang tulus.