PEPO.id - Film "GJLS: Ibuku Ibu-Ibu" bukan sekadar tontonan komedi biasa. Sejak awal film ini sudah memberi sinyal untuk meletakkan logika di luar bioskop dan membiarkan kekacauan menguasai layar. Komedi yang disuguhkan benar-benar tidak biasa, penuh kejutan, dan tawa yang tak henti.
Kisahnya mengikuti kehidupan sebuah keluarga aneh nan ajaib. Mulai dari pawang hujan, MC dangdut, hingga bocah dengan mental bocil, semuanya tinggal bersama sang ayah, Bucek, yang merupakan juragan kos dan duda baru ditinggal istri.
Sosok istri yang sudah tiada pun digambarkan dengan sangat berlebihan cantik, dermawan, bahkan bisa sulap jadi detektif. Tak hanya itu, Bucek yang rindu cinta pun mencoba menikah lagi dengan seorang SPG beragama Buddha, yang membuat plot semakin absurd dan liar.
Baca Juga: Komang, Perjuangan Cinta di Tengah Perbedaan dan Restu Keluarga
GJLS, trio komedi yang terdiri dari Hibzi, Rispo, dan Alpi, menghadirkan improvisasi yang terasa sangat alami. Banyak adegan gagal atau bloopers yang justru dipertahankan dalam film, menjadikannya semakin chaotic dan lucu dengan kesan jujur.
Alih-alih menyembunyikan kekacauan, film ini justru menjadikannya kekuatan. Tawa para pemain yang gagal menahan geli saat syuting justru menambah kedekatan emosional dengan penonton. Seolah-olah kita diajak nongkrong bareng mereka.
Tidak ada CGI mewah, tidak ada kostum mahal, dan tidak ada lokasi syuting yang muluk. Semua serba sederhana, kostum kontrakan, rumah kos, dan properti seadanya. Tapi justru dari kesederhanaan itu, lahir keintiman yang membumi.
Baca Juga: Perayaan Mati Rasa Tampilkan Konflik Keluarga dan Luka yang Tak Terucap
Improvisasi menjadi tulang punggung film ini. Monty Tiwa sebagai sutradara mengakui bahwa film ini melanggar semua pakem sinema. Struktur naratifnya kacau, tak terduga, dan mengalir seenaknya. Tapi hasilnya tetap: tawa yang meledak-ledak.
Ada momen saat Rispo dikejar debt collector pinjol, ada monolog drama mendadak, hingga flash mob dangdut tanpa aba-aba. Semua bisa terjadi. Penonton tak pernah tahu apa yang akan muncul di adegan berikutnya.
Komedinya mungkin terasa receh bagi sebagian orang, tapi justru di sanalah letak kekuatannya. Di balik kelucuan absurd itu, ada timing dan chemistry antar pemain yang tidak bisa dipalsukan.
Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan
Yang membuat film ini terasa istimewa adalah kejujurannya. Mereka tidak berusaha terlihat pintar atau keren. Mereka hanya ingin penonton tertawa, dan itu berhasil dengan sangat maksimal.
Secara tak terduga, film ini juga menyimpan sisi emosional. Di balik segala kegilaan, terselip kisah keluarga yang hangat dan sangat bisa dirasakan oleh siapa saja. Kita semua punya keluarga yang saling menggila bersama, bukan?
Meski sering dibandingkan dengan film komedi lain yang lebih rapi atau "mahal", GJLS: Ibuku Ibu-Ibu justru unggul karena keberaniannya tampil apa adanya. Film ini goblok, tapi digarap dengan serius dan niat mulia.
Baca Juga: Petualangan Jumbo Bocah Pendongeng yang Menemukan Sahabat Hantu dan Keberanian di Atas Panggung
Penonton akan pulang dengan rahang yang pegal karena tertawa terlalu banyak. Otak mungkin lelah, tapi hati terasa senang. Sebuah pengalaman menonton yang jarang ditemukan di film Indonesia.
Film ini tak meminta penontonnya cerdas, kritis, atau punya standar humor tinggi. Yang dibutuhkan hanya duduk manis dan ikut tertawa bersama kekacauan yang dibalut penuh cinta.
GJLS dan Monty Tiwa berhasil meramu salah satu film komedi lokal paling unik, paling jujur, dan paling absurd. Sebuah tontonan yang sulit dilupakan dan siap membuat siapa saja tertawa tanpa beban.
Baca Juga: Satu Kakak Tujuh Ponakan: Drama Keluarga Penuh Air Mata dengan Visual yang Menggetarkan
