PEPO.id - Film Petaka Gunung Gede telah tayang lebih dari dua minggu dan mencatatkan lebih dari dua juta penonton. Popularitasnya tidak main-main, dengan promosi besar-besaran mulai dari billboard hingga iklan di stasiun MRT. Namun, apakah pencapaian ini didukung oleh kualitas cerita yang memadai?

Film ini mengisahkan dua sahabat, Maya dan Ita, yang memutuskan naik Gunung Gede saat libur sekolah. Rencana awal mereka yang tampak biasa berubah menjadi pengalaman horor saat mereka terjebak dalam lingkaran waktu yang mengulang-ulang momen yang sama.

Ketegangan dimulai sejak Ita menunjukkan tanda-tanda kerasukan dan terus bersikeras untuk mencapai puncak meski kondisi fisiknya memburuk. Namun, motivasi di balik tekad Ita terasa lemah dan kurang digali secara mendalam.

Baca Juga: Ketika Nenek Pembunuh Jadi Legenda yang Tak Terlupakan, Film Old Woman with the Knife 2025

Salah satu kritik terbesar yang muncul dari film ini adalah lemahnya fondasi cerita. Banyak penonton merasa tidak diberi alasan kuat mengapa Ita bersikeras mendaki, padahal risiko yang dihadapi cukup mengerikan.

Selain itu, penggunaan elemen horor seperti musik seram dan pengulangan adegan tidak cukup kuat menciptakan atmosfer menakutkan. Justru, adegan-adegan tersebut terasa repetitif tanpa pengembangan signifikan terhadap konflik.

Beberapa elemen visual juga dinilai kurang meyakinkan. Misalnya, penggunaan bantal sebagai pengganti perut hamil dan adegan kerasukan yang tampak dipaksakan, memperburuk kesan realisme yang penting dalam film horor.

Baca Juga: Perjalanan Gila Mickey 17: Ketika Manusia Dicetak Ulang dan Alien Jadi Sahabat

Salah satu momen yang seharusnya emosional, yakni ketika Ita dan Maya berpegangan tangan dalam suasana mencekam, justru terasa hambar karena tidak dibangun dengan motivasi cerita yang jelas sebelumnya.

Dari sisi teknis, film ini memang memiliki beberapa momen sinematik yang layak dicatat. Make-up karakter yang kerasukan cukup niat, terutama saat karakter Asel menunjukkan tampilan menyeramkan dengan efek prostetik.

Namun, efek seram itu pun belum cukup untuk menutupi kekurangan dari naskah dan pengembangan karakter. Kekuatan visual dan warna hanya bisa menyumbang sedikit nilai tambah dalam keseluruhan pengalaman menonton.

Baca Juga: Ratusan Orang Nyanyikan Terbuang Dalam Waktu Bareng Cast Film Sore dan Barasuara

Banyak yang mempertanyakan, apakah film ini benar-benar layak mendapat pujian yang beredar di media sosial? Atau, apakah promosi besar-besaran telah mengaburkan penilaian objektif terhadap kualitasnya?

Pembuat film horor seharusnya bisa lebih bijak dalam mengadaptasi kisah nyata. Sebuah cerita dari kanal YouTube memang bisa viral, namun mengangkatnya ke layar lebar butuh pendekatan kreatif dan penulisan ulang yang matang.

Jika film ini memang ingin menyampaikan pesan edukatif tentang etika mendaki gunung, seharusnya pesan tersebut disisipkan secara halus sepanjang film, bukan hanya disampaikan melalui wawancara di akhir cerita.

Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan

Alternatif cerita sederhana, seperti menjadikan pendakian sebagai perpisahan emosional dua sahabat sebelum berpisah ke luar negeri, bisa menjadi fondasi yang jauh lebih kuat dan menyentuh.

Masalah motivasi menjadi akar dari banyak kekurangan film ini. Tanpa dorongan emosional yang kuat, penonton kesulitan untuk peduli pada nasib para karakter, apalagi merasakan ketegangan yang coba dibangun.

Dengan pengembangan yang lebih matang, Petaka Gunung Gede sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi film horor yang berkesan. Sayangnya, eksekusinya gagal memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal.

Baca Juga: Snow White Bangkit Melawan: Kisah Cinta, Pengkhianatan, dan Perebutan Tahta Kerajaan

Film ini menjadi contoh bahwa promosi besar tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas cerita. Industri film horor lokal masih membutuhkan keberanian untuk mengambil pendekatan baru, bukan sekadar mengulang formula lama.

Sebagai penutup, Petaka Gunung Gede seharusnya menjadi pelajaran bagi pembuat film bahwa cerita yang kuat dan motivasi karakter yang masuk akal jauh lebih penting daripada sekadar viralitas dan promosi.