PEPO.id - Institut Pertanian Bogor (IPB) akan mendukung impementasi Life Cycle Assessment (LCA) di Indonesia. Pasalnya, metode LCA ini juga dapat dijadikan sebagai tools yang akurat dalam kegiatan SDGs.

Hal ini disampaikan, Wakil Rektor I IPB,Prof. Deni Noviana pada The 6th ILCAN Conference Series on Life Cycle Assessment (ICSoLCA) di Auditorium Sylva PERTAMINA Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada Senin (7/10/2024).

"Metode LCA ini juga dapat dijadikan sebagai tools yang akurat dalam kegiatan SDGs, apalagi dalam hari ini secara bersamaan IPB meraih peringkat 1 SDGs sebagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Pak Rektor Prof.Arif Satria yang seharusnya hadir di Opening ILCAN Conference series juga berhalangan hadir karena dihari yang sama menerima SDGs Award dari Kementerian BAPENAS di Jakarta,"kata Deni.

Lebih lanjut, Deni mengatakan melalui implementasi LCA ini seharusnya kegiatan SDGs akan jauh lebih presisi dan tepat sasaran.

Hal yang sama juga diungkapkan Dekan Fahutan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Naresworo Nugroho.

Dikatakan Nares, di lingkungan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, materi pembelajaran LCA menjadi materi yang disampaikan ke mahasiswa dan mahasiswi IPB khususnya di Fahutan.

Sementara itu, Ketua Umum ILCAN, Dr Kiman Siregar mengatakan bahwa tahun 2023 lalu ILCAN dan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB melakukan ber-MoU dengan Sekretariat PROPER Ditjen PPPKL KLHK. Dengan MOU itu, maka IPB menjadi Kampus untuk Evaluator Aspek LCA di PROPER.

"insya Allah di tahun 2024 ini juga masih berlanjut sebagai Evaluator Aspek LCA di PROPER,"kata Kiman Siregar.

Lebih lanjut, Kiman mengatakan ILCAN sejak didirikan dari 2014 sudah mendorong implementasi LCA di PROPER semenjak ditertbitkannya Permen LHK No 1 tahun 2021 LCA menjadi Aspek Wajib untuk PROPER Peringkat Hijau dan Emas.

Dr.Kiman Siregar dalam paparannya selanjutnya mengharapkan selain penguatan kualitas kajian LCA di PROPER, metode LCA juga harusnya dapat diimplementasikan di kegiatan circular economy juga carbon trading di Indonesia.

"Hasil kajian dampak CO2 equivalen dari LCA di PROPER harusnya bisa dijadikan data awal untuk mekanisme carbon trading, walaupun mekanisme detail pasti butuh penyamaan metode dan standa verifikasinya,"tegas Kiman. (dea)