PEPO.id - Beberapa hari ini saya mendengar ada beberapa karyawan yang akan dimutasi ke salah satu cabang di Purwakarta.
Hal ini pun membuat banyak karyawan heboh, ada yang menolak, dan ada yang berharap pindah dari kantor pusat di Jakarta.
Saya salah satu karyawan yang ingin diseleksi untuk bekerja di kantor Purwakarta. Meski tidak terlalu jauh dari Jakarta, saya berharap Purwakarta memiliki getaran baru.
Jujur saja, saya bosan dengan suasana Jakarta. Setelah beberapa hari, pihak kantor akhirnya mengumumkan daftar staf yang bertugas di cabang tersebut.
Baca Juga: Resep Ayam Bumbu Pesmol Enak dan Nikmat, Cocok untuk Jadi Menu Makan Siang
Tak disangka, nama saya masuk dalam daftar pegawai yang dipindahkan ke Purwakarta.
"Rizky, mulai besok Senin, kamu aktif di kantor Purwakarta," kata Mbak Rini HRD.
"Dengan senang hari mbak," jawabku.
Singkat cerita, saya sudah mulai bekerja dan menjalankan aktivitas di kantor Purwakarta. Suasana dan lingkungan yang baru membuat saya lebih semangat dalam bekerja.
Tidak hanya itu, di sebelah rumah kontrakan saya, ada seorang janda cantik yang sangat menawan.
Baca Juga: Susahnya Memikiat Hati Perawan Desa Anak Pak Camat, Butuh Perjuangan dan Pengorbanan Ekstra
"Namanya Sinta, suaminya meninggal tahun lalu," kata penjaga warung rokok di depan rumahku.
Beberapa hari aku lalui tanpa menyapanya, hingga suatu pagi, dia menyapaku terlebih dahulu.
"Sudah ditunggu, tapi nggak pernah nyapa dulu," katanya.
"He he, maaf mbak, saya malu," kataku.
"Saya Sinta, nama mas, Malu?" jawabnya lagi.
"Bukan, bukan. Nama saya Rizky mbak," jawabku tersipu.
Baca Juga: Tempat Wisata Alam di Temanggung yang Terkenal Indah, Liburan Dijamin Makin Menyenangkan
Sejak kejadian itu, aku mulai menyapa Sinta dulu. Bahkan, saat melihatku, dia tak segan-segan menunjukkan senyum manisnya.
Perlahan, hatiku mulai terisi dengan segala hal tentang Sinta. Seluruh ruang di kepalaku terisi oleh senyum manis Cinta.
Suatu hari, saya memberanikan diri untuk mengajak Sinta makan malam. "Aku janda, kamu nggak masalah dengan statusku?" tanya Sinta.
"Yang masalah, kalau kamu nggak ada di dunia. Jadi sedih," jawabku.
Baca Juga: Objek Wisata Temanggung Hits, Tempatnya Selalu Ramai Diserbu Wisatawan
Mendengar jawabanku, Sinta tersenyum, aku juga. Semesta memang sedang berpihak kepadaku, aku tak butuh lama untuk mendapatkan hati Sinta.
Tak hanya hatinya, tapi semua yang ada pada Sinta, aku sudah mendapatkannya.
"Cintaku, tubuhku, semua milikmu mas," kata Sinta.
Ya, Sinta mengatakan hal itu setelah kami bertukar keringat di ranjangnya yang berisik.
Namun, aku sadar aku tak bisa sepenuhnya memiliki Sinta. Aku juga tak bisa melanjutkan hubunganku dengan Sinta.
Hal itu karena ada satu istri dan dua anak yang menjadi tanggung jawabku. Ya, aku memang sudah mempunyai istri dan anak.
Entah kenapa aku begitu tega mengkhianati keluargaku yang berada di Jakarta. Namun, aku tak bisa menahan nafsuku untuk bisa menikmati keindahan tubuh Sinta.
Setelah beberapa bulan di Purwakarta, aku meminta pindah lagi ke kantor pusat. Aku tak bisa terus-terusan mengkhianati keluargaku di sana.***

