PEPO.id - Media sosial membuatku gila. Kok bisa ya, saya kecanduan main software dating.

Mungkin soal umur, “Kapan nikah?” Pertanyaan keluarga seperti ini bikin kepala pusing. Padahal usia saya baru 30 tahun. Saya tidak berpikir itu terlalu dewasa pada usia itu.

Nyatanya, saya adalah orang bebas, dan belahan jiwa saya ada di tangan Tuhan. Ini semua adalah prinsip saya, dan saya seorang penulis, dan saya sangat ingin berkeliling dunia untuk menemukan bahan untuk tulisan saya.

Inilah beberapa latar belakang saya. Media sosial itu menyenangkan, terutama aplikasi kencan.

Saya bisa bertemu orang baru, dan saya bahkan berkencan dengan tiga pria yang belum pernah saya temui. Disebut juga media sosial, pacar selalu bersama kita, hanya untuk hiburan.

Baca Juga: Janda Cantik Ketagihan Berhubungan Denganku saat Main ke Kamar Kost

Namun, satu dari mereka mengajakku untuk bertemu, namanya Arga. Dari foto profilnya, sih, Arga itu tampan, senyumnya menggetarkan hati, selama aku chatting dan telepon baik.

Jujur, aku jatuh cinta dari awal aku "match" sama dia.

Aku mengiyakan pertemuan itu, kami akhirnya bertemu di sebuah cafe di Jakarta. Awalnya kaku banget, deg-degan dan nggak tahu mau melakukan apa, hehehe.

"Citra (namaku), aku sepertinya tidak ingin lama-lama, deh. Kita serius, yuk?," kata Arga sambil memegang tanganku.

Baca Juga: Resep Es Kopyor Manis dan Segar, Menu Takjil Favorit untuk Berbuka Puasa

Waduh, aku gemetar setengah mati. Hidungku bahkan kembang kempis karena napas terlalu kencang.

"Ini benaran? Kamu serius?," sahutku.

"Buat apa lagi? Usia sudah sama-sama 30. Banyak kesamaan diantara kita, kan?," tambahnya.

Aku hanya mengangguk dan kegirangan.

"Oh, ini rasanya ditembak," dalam benakku. Maklum, aku baru pertama pacaran.

 

Pada akhirnya, selama dua hari saya memiliki hubungan yang hebat dengannya. Suatu hari saya diajak makan malam bersama Arga, dan sesampainya di rumah saya mampir ke kosnya.

Baca Juga: Objek Wisata Ponorogo Populer dan Indah, Jadi Tempat Liburan Favorit Wisatawan

Saat aku mampir ke kos Arga, dia menciumku tanpa izin. Jantungku kembali berdetak tak beraturan.

Dia segera meremas saya, meninggalkan saya pincang tak berdaya. Namun, saya menikmatinya. Katanya enak, saya baru tahu.

Setelah kami selesai bermain kuda lumping, dia mencium keningku dan berkata "aku sayang kamu".

Setelah itu Arga mengantarku pulang, di hari itu kami masih saling teleponan sampai tengah malam.

Keesokan harinya saat aku mengucapkan selamat pagi kepadanya, ada yang aneh. WhatsAppnya hanya ceklist satu, di telepon nomornya tidak aktif.

Baca Juga: Resep Es Cappuccino Cincau, Minuman Segar untuk Hidangan Berbuka Puasa

Satu hari aku biarkan, tetapi ini sudah seminggu. Dalam hatiku ada terbesit menyesal telah menyerahkan mahkotaku.

Aku akhirnya datang ke indekosnya dan bertanya kepada penjaga di sana. Ternyata mereka tidak mengenal Arga, tetapi ada satu tamu yang menginap melalui aplikasi di sana.

Ternyata aku tertipu. Arga yang melamarku di cafe ternyata kutu kupret, playboy dan hanya menginginkan mahkotaku saja.

"Dasar playboy kacrut, buaya darat!," sepanjang perjalanan dengan rasa penyesalan.

Sekarang aku bingung setengah mati, bagaimana kalau nanti aku hamil?

Apakah suamiku nanti mau menerima keberadaanku yang seperti ini?

Semua pertanyaan itu muncul tanpa henti. Karena kebodohan ini aku kehilangan kehormatanku. Sekarang aku hanya bisa meratapinya dan berharap ada pria baik yang mau menerimaku.

Aku sudah hapus aplikasi pencari jodoh itu, aku juga sudah tidak lagi menjadi penulis dan memilih untuk diam di rumah, entah sampai kapan.***