PEPO.id - Nama saya Historia. Saya seorang mahasiswa senior yang baru memasuki tahap disertasi.
Saya sangat senang akhirnya bisa menyelesaikan studi kuliah saya setelah berjuang dengan buku begitu lama.
Suatu sore, saya pergi ke perpustakaan sekolah untuk menulis tesis. Yang mengejutkan saya, perpustakaan sangat gelap dan sunyi.
Tempatnya di sudut kampus yang ditumbuhi banyak pepohonan rindang. Jujur, saya suka tempat ini.
Baca Juga: Tips Jitu Mengatasi Kurang Tidur saat Puasa di Bulan Ramadhan Agar Tubuh Tetap Fit
Bukan hanya tempatnya yang keren, tapi saya sering melihat orang-orang membaca buku di sini.
Dia adalah senior yang saya hormati dan sangat saya sukai. Namanya Alan. Dia, seperti saya, sedang menulis disertasi yang hampir selesai.
Saya beruntung memiliki mentor seperti dia. Jadi kami memutuskan untuk mengerjakan kertas itu bersama-sama.
Ketika saya sampai di perpustakaan, saya melihatnya menyalakan laptopnya, dan ada beberapa buku di atas meja. Saat saya mendekatinya, saya menyodorkan sebotol air mineral.
Baca Juga: Cara Mudah Mengontrol Emosi saat Bulan Puasa, Salah Satunya Istirahat yang Cukup
“Kak, ini minumnya yang tadi kakak titip,” ujarku sambil menyodorkan minuman tersebut.
“Oh Historia, terimakasih. Kamu sudah sampai ternyata ya, mari duduk,” katanya lembut.
Saat aku hendak duduk di sampingnya, aku melihat kotak transparan berisikan suntikan lengkap dengan jarumnya.
Seketika aku kaget dan ingin bertanya. Akan tetapi, aku terlalu takut untuk mempertanyakan hal tersebut. Sebab, mungkin saja suntikan itu adalah hal yang privasi.
Saat senja mulai datang, matahari sirna, dan kegelapan mulai muncul, perpustakaan ini pun semakin remang dengan penerangan yang tidak terlalu bagus.
Baca Juga: Resep Balado Ati Kentang, Hidangan Khas Sumatera Barat yang Banyak Disukai Masyarakat
Akan tetapi, aku tetap berniat mengerjakan skripsiku hingga Eren selesai. Karena, Eren bilang bahwa skripsinya tinggal sedikit lagi.
Beberapa saat kemudian, listrik pun padam. Aku tidak dapat melihat kecuali layar laptopku.
Dari balik laptopku, ada seseorang yang tiba-tiba menutupnya hingga tidak ada satupun sumber cahaya di sini.
Saat aku menoleh ke arah Eren, ternyata dia tidak di sana. Laptopnya pun tidak menyala. Aku pun semakin takut dengan keadaan ini.
Baca Juga: Resep Ayam Saus Padang, Menu Hidangan Pedas dan Nikmat Khas Sumatera Barat
Tidak lama setelahnya, tiba-tiba ada sesuatu yang mengelus perutku. Lantas aku pun berteriak sekencang-kencangnya dan meminta Eren untuk menolongku.
“Tolooong, Eren tolooonngg,” ujarku sambil berteriak dan meronta.
Tidak lama kemudian mataku mulai beradaptasi dan melihat sosok Eren yang ternyata sedang mengelus perut dan hampir membuka bajuku.
Aku pun menjadi pasrah karena aku pun ingin mencobanya.
“Ada apa Historia? Aku di sini, ingin menyuntikmu. Percayalah bahwa rasanya lebih nikmat jika kamu sambil melepas baju,” ujarnya.
“Ahhhh Ahhh Ahhh sakit, jangan suntik, aku tidak suka jarum suntik yang besar itu,” ujarku sebelum pingsan.***

