PEPO.id - Gunung Penanggugan berada pada ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut dan berada dalam satu gugusan gunung yang sama dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.

Lebih spesifiknya, gunung ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur).

Gunung Penanggungan berjarak sekitar 55 kilometer dari Surabaya, Jawa Timur dan juga dikenal sebagai salah satu dari sembilan gunung suci di Jawa.

Mendaki Gunung Penanggungan pun tak kalah menantang dibandingkan gunung lainnya.

Baca Juga: Kisah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau yang Mengguncang Dunia dan Mengubah Langit Eropa Jadi Gelap Total

Semua berawal dari perjalanan dua bersaudara pecinta alam.

Mereka memulai petualangan mereka dari LMDH Tamiajeng, yang terletak di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas.

Keindahan alam di sekitar memberikan kedua kakak beradik ini pemandangan yang nyaman selama perjalanan mereka.

Ketika menjelang sore, mereka mencapai pos terdekat dengan puncak bayangan gunung (hampir mencapai puncak sesungguhnya).

Baca Juga: Kisah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau yang Mengguncang Dunia dan Mengubah Langit Eropa Jadi Gelap Total

Di pos tersebut, mereka beristirahat selama 15 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak bayangan.

Setelah mencapai puncak bayangan, malam pun tiba, dan ini membuat mereka terpaksa berkemah di salah satu goa sebagai tempat perlindungan.

Jelang tengah malam, mereka mendengar suara orang ramai-ramai ngobrol seperti di atas mereka.

Mereka mengira sudah ada yang mencapai puncak terlebih dahulu. Meskipun selama perjalanan mereka tidak melihat pendaki lain.

Baca Juga: Deretan 7 Kisah Pahlawan Wanita Indonesia yang Tangguh, Punya Perjuangan yang Menginspirasi Banyak Orang

Kemudian, saat mereka memutuskan untuk tidur, terlihat lampu-lampu senter seperti menyinari jalur pendakian.

Mereka pun mengira itu adalah kumpulan pendaki lain, dan mereka berikan signal untuk bergabung di goa itu. Namun, sinar itu tidak bergerak mendekati mereka dan hanya di satu tempat saja.

Tak lama mereka pun terlelap karena capek menunggu. Paginya mereka melanjutkan perjalanan untuk melihat matahari terbit.

Sampai di puncak, mereka menikmati terbitnya matahari, tapi kebingungan dan heran setelah melihat tidak ada satu orang pun di puncak.

Setelah menikmati matahari terbit, mereka pun turun dan kembali ke pos awal. Namun, mereka bertanya-tanya, siapa yang terdengar mengobrol dan lampu senter siapa itu?***