PEPO.ID - Sultan Hasanuddin si Ayam Jantan dari Timur merupakan penguasa ke-16 Kerajaan Gowa. Kisah dan namanya begitu harum namanya di telinga rakyat Indonesia dalam kisah perlawanan terhadap VOC dan penjajah Belanda.
Sultan Hasanuddin terkenal dengan julukan "De Haantjes van Het Oosten" atau yang berarti Ayam Jantan dari Timur. Hal ini dikarenakan semangat dan keberaniannya dalam melawan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC dan penjajah Belanda.
Pada zamannya, Sultan Hasanuddin dikenal sebagai pemimpin yang keras kepala dalam menentang monopoli perdagangan yang dilakukan VOC penjajah Belanda di wilayah Nusantara.
Baca Juga: Sinopsis Film Saranjana Kota Ghaib, Kisah Horor yang Melegenda di Kalimantan
Bahkan hingga akhir hayatnya, dalam kisah yang beredar, Sultan Hasanuddin si Ayam Jantan dari Timur ini tetap kukuh dalam pendiriannya untuk tidak berkolaborasi dengan VOC dan berusaha mengusir penjajah Belanda.
Situasi ketegangan antara Kerajaan Gowa dan VOC dan penjajah Belanda berawal dari ambisi VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di wilayah yang dikuasai Kerajaan Gowa.
Kerajaan Gowa merupakan pusat perhubungan penting antara Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Kepulauan Maluku, yang menjadi jalur vital dalam perdagangan rempah-rempah.
Baca Juga: Kisah Horor Sosok Putih di Asrama Tua, Wujudnya Menyeramkan Dengan Mulut Terbuka Lebar
Ambisi VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah memicu konflik dengan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.
Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa melakukan perlawanan gigih untuk menentang praktek monopoli yang dilakukan VOC.
Pada tahun 1660, Sultan Hasanuddin mengumpulkan kekuatan dengan mendapatkan dukungan dari kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk melawan VOC. Armada laut Kerajaan Gowa dikenal karena keberaniannya yang legendaris dalam pertempuran laut.
Baca Juga: Kisah Legenda Nyi Roro Kidul, Anak Prabu Siliwangi yang Kabur ke Laut Selatan
Namun, menghadapi kekuatan Kerajaan Gowa yang kuat, VOC menjalin aliansi dengan Kerajaan Bone untuk mengumpulkan pasukan demi mengatasi Kerajaan Gowa. Namun, meskipun ada bantuan dari sekutu, Kerajaan Gowa masih terlalu kuat untuk dihadapi VOC.
Pada tahun 1663, pemimpin Kerajaan Bone yang bernama Arung Palakka melarikan diri ke Batavia untuk meminta bantuan VOC dalam menghadapi Kerajaan Gowa. Ini menjadi poin balik dalam konflik tersebut.
Pada tanggal 24 November 1666, pasukan VOC di bawah komando Laksamana Cornelis Janszoon Speelman, bersama pasukan dari Kerajaan Bone, melancarkan serangan besar-besaran ke Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa.
Baca Juga: Kisah Horor Panti Jompo di Bogor, Ada Sosok Penunggu Kuntilanak yang Suka Mengganggu
Speelman memerintahkan armada laut VOC untuk menyerang wilayah Kerajaan Gowa dengan meriam. Pertempuran sengit pun terjadi, dengan tembakan meriam dari kedua belah pihak.
Akhirnya, setelah menerima tekanan yang tak tertahankan dari VOC dan pasukan Bone, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.
Perjanjian ini memaksa Sultan Hasanuddin untuk mengakui monopoli VOC atas perdagangan di wilayah Kerajaan Gowa dan juga membatasi wilayah kekuasaannya.
Baca Juga: Kisah Horor Rumah Angker, Diteror Sosok Penunggu Berbadan Besar Dengan Pakaian Gelap
Walaupun demikian, semangat perlawanan Sultan Hasanuddin dan pasukannya tidak pernah pudar. Setelah perjanjian itu, mereka terus melancarkan perlawanan terhadap VOC. Namun, upaya-upaya tersebut tidak cukup untuk mengusir VOC dari Sulawesi Selatan.
Hingga akhir hayatnya pada tanggal 12 Juni 1670 di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sultan Hasanuddin tetap memegang teguh prinsipnya untuk tidak bekerja sama dengan VOC.
Pengakuan atas perjuangannya dalam melawan monopoli VOC mengakibatkan pemerintah pusat menjadikannya sebagai pahlawan nasional.
Baca Juga: Kisah Horor Rumah Berhantu, Sering Diganggu Sosok Tak Kasat Mata Bikin Bulu Kuduk Merinding
Selain itu, untuk menghormati perjuangan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan harga diri bangsa, namanya diabadikan dalam nama sebuah perguruan tinggi, yakni Universitas Hasanuddin.
Lalu, ada pula Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar yang juga menjadi sebuah penghormatan abadi atas perjuangan seorang pahlawan yang gigih dalam membela kemerdekaan dan martabat bangsanya.
