PEPO.ID - Kota Palembang yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan, adalah salah satu kota paling bersejarah di Indonesia. Kota Palembang memiliki sejarah, asal usul nama yang sangat menarik hingga jadi kota tertua di Indonesia.
Dengan sejarah yang tercatat hingga lebih dari 1.300 tahun yang lalu, Palembang bukan hanya sebuah kota, tetapi juga harta berharga dalam ranah sejarah Indonesia. Bagaimanakah sejarah dan asal usul nama Kota Palembang?
Diketahui, pada tanggal 17 Juni 2023 lalu, Kota Palembang merayakan ulang tahunnya yang ke-1340. Hal ini menegaskan bahwa penting bagi kita untuk mengetahui sejarah dan asal usul nama dari suatu hal, termasuk kota tertua di Indonesia ini.
Baca Juga: Rekomendasi Kuliner Khas Palembang: 8 Hidangan Lezat yang Membuat Lidah Bergoyang dalam Kebahagiaan
Palembang, yang juga dikenal sebagai "Kota Pempek," bukanlah sekadar nama yang muncul begitu saja. Asal usul nama ini memiliki akar dalam geografi kota itu sendiri.
Sejak zaman dahulu, Palembang selalu dikelilingi oleh air, baik itu sungai, rawa, atau hujan yang deras. Oleh karena itu, para leluhur memberi nama kota ini sebagai "Pa-lembang," yang dalam bahasa Melayu berarti "tempat atau wilayah yang digenangi oleh air."
Bahkan dalam bahasa Melayu-Palembang, "lembang" atau "lembeng" mengacu pada genangan air. Jadi, Palembang adalah tempat yang selalu terkendali oleh air.
Sejarah Kota Palembang yang kaya menjadi bukti tak terbantahkan mengapa kota ini dianggap sebagai yang tertua di Indonesia. Salah satu bukti paling mencolok adalah Prasasti Kedukan Bukit, sebuah peninggalan sejarah yang luar biasa.
Prasasti ini ditemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Palembang, oleh seorang penjelajah Belanda bernama C.J. Batenburg pada 29 November 1920.
Prasasti Kedukan Bukit, yang berangka tahun 16 Juni 682, ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Isinya menceritakan pembentukan "wanua," yang sekarang diidentifikasi sebagai awal berdirinya Kota Palembang pada tanggal 16 Juni 683 Masehi.
Prasasti ini juga memaparkan bahwa Kota Palembang adalah pusat Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi. Ekspedisi Dapunta Hyang, raja Sriwijaya, dicatat dalam prasasti ini, bersama ribuan tentara yang menggunakan perahu dan berjalan kaki.
Mereka tiba di tempat yang sekarang dikenal sebagai aliran Sungai Kedukan, salah satu anak sungai Musi.
Raja tersebut mendirikan "wanua" atau permukiman pada tanggal 16 Juni 682 Masehi. Permukiman ini kemudian berkembang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung selama beberapa abad.
Wilayah Palembang bagian barat diduga pernah menjadi ibu kota Kerajaan Sriwijaya yang terletak di tepi Sungai Musi bagian hilir.
Bukti arkeologi seperti saluran air dari situs Karang Anyar yang mengalir ke Sungai Musi mendukung hipotesis ini. Situs Karang Anyar bahkan diidentifikasi sebagai bekas Keraton Sriwijaya karena terdapat banyak sisa pemukiman di sekitarnya, serta saluran yang berhubungan dengan Sungai Musi.
Selain temuan arkeologi yang mengesankan tersebut, seperti arca Hindu-Buddha, prasasti, keramik, tembikar, manik-manik, dan struktur bata candi, semuanya menunjukkan bahwa Palembang telah menjalin hubungan dagang yang erat dengan berbagai bangsa asing, termasuk India, Tiongkok, dan Asia Timur, sejak zaman kuno.
Dengan segala kekayaan sejarah yang luar biasa, asal usul Kota Palembang bukan hanya sekadar sebuah kota. Ia adalah penanda penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, sebuah kota yang mengingatkan kita akan akar-akar peradaban yang kaya dan beragam di kepulauan ini.
Kota Palembang bukan sekadar nama di peta, tetapi kisah hidup yang terus berlanjut dari masa ke masa.
