Pepo – Fast beauty atau tren kecantikan yang serba cepat kini tengah menjadi fenomena yang paling disorot dalam industry kecantikan.
Fenomena fast beauty sendiri datang dari permintaan dan tren pasar yang berubah-ubah, sehingga industri kecantikan berlomba-lomba memenuhi minat pasar.
Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahunnya, industry kecantikan, termasuk skincare, menyumbang 6,8 juta ton limbah plastik.
70% dari total limbah plastik yang dihasilkan masih belum diolah dengan baik, sehingga berakhir di tempat pembuangan atau laut yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Baca Juga: Dari Pola Makan Hingga Aktivitas Fisik: Kunci Mencegah Diabetes Pada Remaja
Kontaminasi yang dihasilkan dari produk skincare ini lah yang bisa merusak ekosistem air dan juga organisme didalamnya.
Kampanye influencer di media sosial tentang pentingnya merawat diri menjadi penyebab dari peningkatan penulusan produk perawatan kulit hingga 130%.
Penggunaan skincare dengan bahan alami seperti minyak kelapa, aloe vera, dan sebagainya bisa menjadi solusi alternatif untuk fenomena ini.
Selain itu, pemerintah dapat membantu mengatasi masalah sampah fast beauty dengan membuat kebijakan dan regulasi yang mendorong praktik produksi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Kesehatan Jantung dan Konsumsi Kopi: Manfaat dan Resiko yang Wajib Diketahui
Mereka juga dapat memberi masyarakat pendidikan dan kesadaran lingkungan untuk mengurangi menggunakan produk fast beauty.
Selain itu, pemeritnah juga dapat berpartisipasi dalam kampanye dan program sosial yang bertujuan untuk mengurangi efek buruknya.
Dengan memilih pilihan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, kita dapat membantu melewati era keindahan yang cepat dan menuju masa yang lebih sejahtera bagi Bumi.
(Dinda Putri Rahmawati)


