PEPO.id - Film Hayya 3: Gaza kembali menyapa penonton Indonesia dengan kisah yang mengusung tema perjuangan, kemanusiaan, dan solidaritas terhadap Palestina. Disutradarai oleh Justice Arimba, film ini merupakan kelanjutan dari dua film sebelumnya yang mengangkat kisah Haya, gadis kecil asal Palestina.
Cerita dalam film ini berfokus pada karakter baru bernama Gaza, seorang anak yatim piatu yang diperankan Azzami Suki. Ayah Gaza, seorang relawan kemanusiaan, gugur sekembalinya dari Palestina. Setelah kepergian sang ayah, Gaza pun dititipkan di sebuah panti asuhan.
Panti tersebut dikelola oleh Ustazah Dewi, yang diperankan oleh Oki Setia Dewi, dan adiknya, Rafa Safira, yang dimainkan oleh Cut Shifa. Di tempat inilah Gaza bertemu dengan Hayya (Amna Syahab), gadis Palestina yang telah tinggal di Indonesia selama empat tahun.
Baca Juga: GJLS: Ibuku Ibu-Ibu, Film Komedi Absurd yang Bikin Rahang Keram dan Otak Meleleh
Kedekatan antara Hayya dan Gaza berkembang dengan cepat. Nama Gaza sendiri menjadi pengingat bagi Hayya akan tanah kelahirannya yang porak-poranda akibat konflik berkepanjangan. Bersama, keduanya membangun kembali semangat hidup mereka yang sempat hilang.
Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Sebuah peristiwa mengancam kembali keselamatan Hayya dan Gaza, memaksa mereka menghadapi kenyataan keras di balik kehidupan damai yang mereka dambakan di negeri orang.
Film ini sangat kental dengan nuansa kampanye kemanusiaan, mengusung pesan solidaritas kepada rakyat Palestina. Isu Free Palestine diangkat secara konsisten sepanjang cerita, baik dalam dialog, simbol, maupun adegan aksi massa.
Baca Juga: Sore Istri dari Masa Depan Film yang Tidak Hanya Ditonton tapi Dirasakan
Karakter Gaza digambarkan memiliki pemahaman luar biasa terhadap konflik Palestina, meskipun masih sangat muda. Ia mewarisi semangat juang dari almarhum ayahnya, termasuk melalui miniatur Masjid Al-Aqsa yang menjadi simbol perjuangan.
Gaza tidak digambarkan sebagai anak biasa. Ia memiliki obsesi kuat terhadap Palestina dan konflik yang menimpanya. Hal ini menjadi poros penting dalam menggerakkan cerita dan menguatkan pesan yang ingin disampaikan film.
Meski menyampaikan pesan mulia, dari sisi teknis film ini mendapat sorotan. Banyak kritik dialamatkan pada alur cerita yang dinilai lemah, akting yang kurang meyakinkan, serta penggunaan elemen CGI dan tata suara yang belum maksimal.
Baca Juga: Satu Kakak Tujuh Ponakan: Drama Keluarga Penuh Air Mata dengan Visual yang Menggetarkan
Beberapa momen di film menampilkan potongan aksi solidaritas yang dilakukan oleh aliansi masyarakat sipil di Indonesia. Montase ini bertujuan menggugah empati penonton, meski penyusunannya terasa ditempatkan seadanya tanpa pengolahan sinematik yang kuat.
Secara keseluruhan, Hayya 3: Gaza terasa lebih sebagai film kampanye ketimbang karya sinematik utuh. Gaya penceritaannya mengingatkan pada tayangan FTV religi, mudah dicerna, tetapi kurang dalam dari sisi kedalaman naskah.
Beberapa tokoh lain seperti produser Asma Nadia turut muncul dalam adegan yang cukup panjang, mempertegas kehadiran pesan ideologis dalam film. Nama-nama besar seperti Fauzi Baadilla juga muncul meski hanya sebentar, dan penampilannya dinilai tidak memberikan dampak signifikan.
Baca Juga: Komang, Perjuangan Cinta di Tengah Perbedaan dan Restu Keluarga
Melly Goeslaw turut menyumbang lagu tema untuk film ini. Sayangnya, kekuatan lirik dan melodi yang ditawarkan belum cukup menyentuh hati, membuat unsur musikal terasa kurang menggugah secara emosional.
Dari sisi naskah, film ini kerap mengulang-ulang tema Gaza dan Palestina secara eksplisit tanpa nuansa. Hampir semua karakter memiliki dialog seputar konflik tersebut, hingga terasa berlebihan dan repetitif.
Meski begitu, film ini tetap memiliki nilai penting. Sebanyak 40% dari penjualan tiket kabarnya akan didonasikan untuk rakyat Gaza. Komitmen ini menjadi salah satu aspek yang layak diapresiasi dari produksi film ini.
Baca Juga: Perayaan Mati Rasa Tampilkan Konflik Keluarga dan Luka yang Tak Terucap
Sejak pengembangan awal pada 2018 hingga akhirnya menjadi trilogi yang rilis pada 2025, Hayya menjadi salah satu film lokal yang secara terbuka menyuarakan isu Palestina. Bagi sebagian penonton, ini merupakan bentuk perlawanan lewat seni.
Pada akhirnya, Hayya 3: Gaza bukanlah tontonan yang ringan dan menyenangkan. Namun film ini tetap memiliki tempat bagi mereka yang ingin menyalurkan empati, mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, dan menyuarakan keadilan melalui medium film.
