PEPO.id - Kontroversi tengah membayangi penayangan film animasi nasional Merah Putih One for All setelah muncul tuduhan pelanggaran hak cipta dari seorang kreator 3D asal Pakistan, Junaid Miran.

Junaid menuding tim produksi telah memakai karakter karyanya tanpa izin resmi. Klaim ini ia sampaikan melalui kolom komentar di salah satu video YouTube yang memuat karakter animasi bernama Jayden.

Komentar itu ia unggah pada Senin (11/8) sebagai tanggapan terhadap pertanyaan warganet Indonesia yang menyoroti kemiripan karakter Jayden dengan salah satu tokoh di film tersebut.

Baca Juga: Jelang Tayang, “Merah Putih One for All” Ramai Dibandingkan dengan “Jumbo”

Ia secara tegas menyatakan tidak pernah dihubungi oleh tim produksi maupun diberikan kredit atas desain karakter yang digunakan.

“Indonesia, terima kasih atas apresiasinya! Untuk menjawab pertanyaan yang paling sering muncul: Tidak. “Tidak ada anggota tim produksi yang menghubungi saya ataupun memberikan kredit atas penggunaan karakter saya sebagai tokoh utama di film ini,” tulis Junaid dalam komentarnya.

Lebih jauh, ia mengklaim ada enam desain karakternya yang dipakai dalam Merah Putih One for All. Meski demikian, ia tidak merinci karakter mana saja yang dimaksud.

Baca Juga: Film Horor “Sihir Pelakor” Angkat Kisah Nyata Ilmu Hitam Sabdo Pandito, Resmi Tayang di Bioskop

Salah satu yang menjadi sorotan adalah karakter Jayden, yang disebut memiliki kemiripan mencolok dari segi warna kulit dan gaya rambut.

Karakter Jayden sendiri merupakan bagian dari aset digital yang dijual Junaid di platform Reallusion dengan harga 43,5 dolar AS atau sekitar Rp707 ribu.

Aset tersebut mencakup avatar lengkap dengan rambut, pakaian, hingga tekstur kulit yang siap digunakan dalam berbagai proyek animasi.

Baca Juga: Film Animasi “Merah Putih One For All” Siap Tayang Jelang HUT RI ke-80, Panen Kritikan Warganet

Sampai berita ini diterbitkan, pihak produksi Merah Putih One for All belum memberikan pernyataan resmi menanggapi tudingan tersebut.

Di sisi lain, Junaid sendiri belum memberikan pernyataan lanjutan kepada media internasional maupun lokal.

Sebelumnya, produser eksekutif Merah Putih One for All, Yuli Endiarto, pernah menjelaskan bahwa film ini digarap secara mandiri tanpa pendanaan dari pemerintah.

Baca Juga: Wednesday Season 2 Resmi Tayang di Netflix, Hadirkan Misteri Lebih Gelap dan Kejutan Mengejutkan

Ia menegaskan seluruh pihak yang terlibat memberikan kontribusi secara sukarela sebagai bentuk perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Merah Putih One for All sempat mendapat sorotan publik sebagai salah satu gebrakan dalam industri animasi tanah air.

Meski begitu, tuduhan pelanggaran hak cipta ini menjadi tantangan besar bagi citra film tersebut dan memicu perdebatan sengit di media sosial.

Baca Juga: Fakta Menarik Panji Tengkorak, Komik Legendaris yang Siap Hadir di Layar Lebar dalam Format Animasi

Jika benar terbukti, kasus ini berpotensi menjadi preseden penting bagi perlindungan hak cipta dalam industri animasi Indonesia.