PEPO.id -- Ia dikenal sebagai presiden, ulama, sekaligus tokoh pluralisme. Namun di balik itu, beredar kisah-kisah yang membuat banyak orang bertanya—benarkah Gus Dur memiliki keistimewaan yang melampaui nalar?

Kisah tentang KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, tidak hanya berhenti pada perannya sebagai Presiden ke-4 Indonesia atau tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Di tengah kiprah politik dan sosialnya, beredar pula berbagai cerita yang menggambarkan sisi spiritualnya—kisah yang oleh banyak orang dikaitkan dengan karomah, yaitu keistimewaan yang diyakini diberikan oleh Allah kepada orang-orang saleh.

Berbeda dengan konsep kanuragan dalam arti kekuatan fisik, kisah-kisah tentang Gus Dur lebih sering dikaitkan dengan kemampuan batin dan kedalaman spiritual.

Salah satu yang paling sering disebut adalah ilmu laduni, yakni pengetahuan yang diyakini datang langsung tanpa proses belajar biasa. Banyak yang merasa bahwa ucapan-ucapan Gus Dur kerap sulit dipahami pada awalnya, namun terbukti benar di kemudian hari.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur dikenal sering melontarkan pernyataan yang terdengar sederhana, bahkan terkesan santai.

Baca Juga: Sejarah Konflik Poso dan Jusuf Kalla Sang Juru Penyelamat

Namun seiring waktu, banyak orang melihat bahwa apa yang ia sampaikan memiliki makna yang dalam, bahkan terkadang dianggap sebagai bentuk “prediksi” terhadap peristiwa yang akan datang.

Kisah lain yang sering diceritakan adalah saat ia menjabat sebagai presiden. Dalam sebuah rapat penting, Gus Dur disebut-sebut sempat tertidur.

Namun ketika dibangunkan, ia mampu menjelaskan isi pembahasan secara rinci. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai tanda ketajaman pikiran sekaligus keunikan cara beliau menyerap informasi.

Selain itu, Gus Dur juga dikenal sangat gemar melakukan ziarah kubur. Banyak cerita yang beredar bahwa ia mampu menunjukkan lokasi makam tokoh-tokoh penting atau wali yang sebelumnya tidak diketahui secara pasti. Aktivitas ini semakin menguatkan pandangan sebagian masyarakat bahwa ia memiliki kedekatan spiritual yang tinggi.

Salah satu kisah yang paling populer adalah cerita tentang kemampuannya berada di dua tempat sekaligus. Dalam beberapa testimoni, disebutkan bahwa Gus Dur terlihat berada di rumah atau rumah sakit di Ciganjur, namun pada saat yang sama juga terlihat menghadiri acara lain atau berziarah di tempat berbeda.

Cerita ini bahkan membuat pengawal dari Banser kebingungan, karena laporan yang mereka terima menunjukkan keberadaan Gus Dur di dua lokasi dalam waktu yang bersamaan.

Dalam tradisi pesantren, fenomena seperti ini sering disebut sebagai “karomah” atau bahkan dikenal dengan istilah pecah rogo—sebuah kemampuan spiritual yang diyakini melampaui batas fisik manusia.

Versi lain dari kisah ini juga menyebutkan bahwa Gus Dur pernah terlihat berada di Istana Negara, namun di waktu yang sama juga terlihat melaksanakan aktivitas lain, seperti menghadiri pertemuan atau ibadah di tempat berbeda.

Baca Juga: Bogorun 2026 Dipadati Ribuan Peserta, Rudy Susmanto Soroti Semangat Kebersamaan Warga

Kisah-kisah ini umumnya disampaikan oleh orang-orang yang mengaku menyaksikan langsung atau mendengar dari lingkaran dekatnya.

Meski demikian, cerita-cerita tersebut lebih sering dipahami sebagai bentuk kekaguman masyarakat terhadap sosok Gus Dur, bukan sebagai fakta ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

Dalam konteks budaya dan tradisi, kisah karomah memang menjadi bagian dari cara masyarakat menghormati ulama dan tokoh spiritual.

Di luar kisah-kisah tersebut, perjalanan hidup Gus Dur sebagai tokoh nasional tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Ia terpilih sebagai Presiden ke-4 pada 20 Oktober 1999 dalam Sidang Umum MPR, melalui dinamika politik yang cukup kompleks di masa awal reformasi.

Didukung oleh koalisi yang dikenal sebagai Poros Tengah, Gus Dur berhasil meraih suara mayoritas dan mengungguli Megawati Soekarnoputri. Meski demikian, Megawati kemudian menjabat sebagai Wakil Presiden dalam pemerintahan yang dipimpin Gus Dur.

Selama masa kepemimpinannya, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang sederhana, humoris, dan berani mengambil keputusan.

Ia kerap mengedepankan nilai pluralisme, toleransi, dan kemanusiaan di tengah situasi politik yang belum sepenuhnya stabil.

Gaya kepemimpinannya yang santai namun penuh makna membuatnya dekat dengan berbagai kalangan.

Ia juga dikenal tegas dalam menolak praktik nepotisme dan berusaha menjaga integritas dalam pemerintahan.

Namun, masa jabatannya tidak berlangsung lama. Pada 23 Juli 2001, melalui Sidang Istimewa MPR, mandatnya dicabut dan posisinya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Meski demikian, pengaruh dan warisan pemikirannya tetap hidup hingga saat ini.

Gus Dur tidak hanya dikenang sebagai seorang presiden, tetapi juga sebagai tokoh yang memperjuangkan keberagaman dan kemanusiaan. Sementara itu, kisah-kisah tentang karomahnya terus hidup di tengah masyarakat sebagai bagian dari narasi spiritual yang melekat pada sosoknya.

Namun, sosok yang dikenal penuh tawa dan kebijaksanaan itu akhirnya berpulang—meninggalkan sunyi yang terasa di seluruh penjuru negeri.

Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, wafat pada 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Ia meninggal dunia pada usia 69 tahun akibat komplikasi penyakit yang telah lama dideritanya, termasuk gangguan ginjal, jantung, dan diabetes.

Beberapa hari sebelum wafat, kondisi kesehatan Gus Dur memang terus menurun. Ia dirawat intensif di RSCM sejak 25 Desember 2009 setelah sebelumnya sempat berada di Jombang.

Pada 28 Desember, ia bahkan sempat menjalani operasi gigi sebagai bagian dari penanganan medis. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah tokoh nasional datang menjenguk, termasuk Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski telah mendapatkan perawatan maksimal, kondisi Gus Dur tidak kunjung membaik. Hingga akhirnya, pada petang hari tanggal 30 Desember, ia menghembuskan napas terakhir. Kabar wafatnya segera menyebar dan membawa duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Di RSCM, ribuan pelayat mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai latar belakang—agama, suku, dan golongan—untuk memberikan penghormatan terakhir. Sosok Gus Dur memang dikenal luas sebagai tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Jenazah kemudian diberangkatkan ke Jombang, Jawa Timur. Sepanjang perjalanan hingga proses pemakaman, ribuan orang turut mengiringi. Ia dimakamkan di kompleks Pesantren Tebuireng, berdampingan dengan leluhur dan keluarganya, di tempat yang memiliki makna historis dalam perjalanan hidupnya.

Suasana duka terasa begitu kuat. Tangis dan doa mengiringi kepergian sosok yang dikenal sederhana, humoris, namun tegas dalam prinsip. Bagi banyak orang, Gus Dur bukan sekadar mantan presiden, melainkan simbol persatuan di tengah perbedaan.

Kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Namun warisan nilai yang ia tanamkan—tentang toleransi, kemanusiaan, dan keberanian menjaga keberagaman—terus hidup dan menjadi pengingat bagi bangsa ini.

Gus Dur telah tiada, tetapi jejak pemikirannya tetap abadi dalam perjalanan Indonesia.

Pada akhirnya, terlepas dari benar atau tidaknya cerita-cerita tersebut, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah besarnya pengaruh Gus Dur dalam berbagai aspek kehidupan—baik sebagai pemimpin, ulama, maupun figur yang menginspirasi banyak orang.

Kisah-kisah itu menjadi cerminan bagaimana seorang tokoh dapat dikenang bukan hanya karena jabatan dan perannya, tetapi juga karena nilai, kepribadian, dan kesan mendalam yang ia tinggalkan di hati masyarakat.