PEPO.ID - Keluarga Salim merupakan salah satu penguasa bisnis di Indonesia. Namun, mereka sempat mengalami masa keruntuhan. Inilah kisah runtuhnya kerajaan bisnis Keluarga Salim.
Keluarga Salim tercatat pernah berjaya selama 3 dekade hingga menjadi orang terkaya di Indonesia untuk beberapa kali. Karena itulah kisah runtuhnya kerajaan bisnis Keluarga Salim jadi menarik.
Dalam artikel kali ini, kita akan membahas kisah singkat mengenai kisah runtuhnya kerajaan bisnis Keluarga Salim yang dulu sempat berjaya selama 3 dekade dan jadi orang terkaya di Indonesia.
Nama Sudono Salim alias Liem Sioe Liong selalu dikaitkan dengan Presiden kedua RI, Soeharto. Pasca kemerdekaan, Sudono Salim dikenal sebagai pengusaha yang mengimpor cengkeh dan menyediakan logistik untuk tentara.
Jaringan bisnisnya yang luas membuat Kolonel Soeharto tertarik untuk menjalin kerja sama dengannya.
Mereka pertama kali berkenalan melalui seorang perantara yang bernama Sulardi, dan Salim mulai memasok logistik untuk pasukan Kolonel Soeharto selama Perang Kemerdekaan 1945-1949.
Hubungan inilah yang kemudian mengubah hidup Salim. Setidaknya, selama tiga dekade ini, keduanya menjalin hubungan yang saling menguntungkan.
Soeharto melindungi Salim dan memastikan kelancaran bisnisnya. Sebagai imbalannya, Salim melalui Salim Group mengalirkan dana kepada Soeharto, keluarganya, dan orang-orang dekat dengannya. Hasilnya, keduanya sukses dalam bidang masing-masing.
Salim berhasil menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, sementara Soeharto memegang kendali atas negara. Namun, kesuksesan mereka hancur dalam beberapa hari pada bulan Mei 1998.
Selama tiga dekade itu, Salim berhasil membangun kerajaan bisnis di berbagai sektor, termasuk perbankan dengan Bank Central Asia (BCA), sektor konstruksi dengan Indocement, dan sektor makanan dengan Bogasari dan Indofood.
Namun, semuanya mulai mengalami kemunduran ketika krisis tahun 1998 melanda. BCA mengalami dampak paling buruk.
Krisis mencapai puncaknya pada bulan Mei 1998. Kedekatan Salim dengan Soeharto menjadi masalah besar baginya. Berkembangnya sentimen anti-Soeharto seiring dengan melebarluasnya krisis ekonomi menjadi bencana bagi Salim.
Masyarakat yang mengetahui hubungan dekat mereka menjadikannya target sasaran. Keberhasilan Salim sebagai orang terkaya membuatnya harus merasakan penderitaan.
Baca Juga: Resep dan Cara Membuat Pisang Goreng Krispi ala Rumahan, Cocok untuk Camilan di Sore Hari
Keadaan ini mencapai titik terparah saat unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan rasial pada 13 Mei 1998.
Pada hari itu, Jakarta dan sekitarnya diguncang oleh kerusuhan, perusakan, dan pembakaran rumah, toko, dan kendaraan. Aksi ini dilakukan oleh massa yang sudah diprovokasi, dan mereka mengincar milik orang-orang Tionghoa, bahkan orang Tionghoa sendiri.
Ketakutan ini kemudian menjadi kenyataan. Pagi hari tanggal 14 Mei, Anthony Salim, anak Sudono Salim menerima berita bahwa rumah ayahnya diserbu oleh sekelompok pemuda bersenjata dengan jerigen bahan bakar dan alat-alat lainnya. Mereka ingin masuk ke rumah mewah Salim.
Baca Juga: 12 Tempat Wisata Alam Terindah di Cianjur, Keindahannya Bikin Pengunjung Terhipnotis
Anthony tidak memiliki pilihan lain. Dia memerintahkan satpam untuk membiarkan massa masuk dan merusak rumahnya daripada menghadang mereka dan memicu pertumpahan darah.
Setelah beberapa saat melakukan perusakan, asap hitam dengan cepat menghiasi kediaman Salim. Di jalan-jalan, foto Salim dilempari batu dan dibakar oleh massa yang marah.
Melihat situasi Jakarta yang memburuk, Anthony segera memutuskan untuk meninggalkan kantornya. Dia takut bahwa kantornya akan mengalami nasib yang sama dengan rumahnya.
Anthony pergi ke Bandara Halim dengan jet pribadi menuju Singapura. Dari sana, dia mengawasi perkembangan bisnisnya setelah masa-masa sulit itu.
Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto akhirnya mengundurkan diri pada 21 Mei 1998, BCA mengalami kerugian yang sangat besar.
Sebanyak 122 cabang BCA mengalami kerusakan, termasuk 17 kantor yang habis terbakar, 26 cabang yang dirusak dan dijarah, serta 75 cabang yang rusak tapi tidak dijarah. Ada 150 ATM yang dirusak dan dijarah, mengakibatkan kerugian sekitar Rp 3 miliar.
Selain BCA, Indofood juga menjadi sasaran serangan. Pabriknya di Solo dijarah dan dibakar, dengan kerugian mencapai Rp 42 miliar. Pusat distribusinya di Tangerang juga hancur dijarah oleh massa. Hanya Indocement yang selamat dari serangan tersebut.
Sejak saat itu, BCA tidak lagi dimiliki oleh keluarga Salim. Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut bahwa untuk memulihkan kekayaannya, Salim harus mengandalkan Salim Group, terutama melalui sektor Indofood.
Sekarang, 25 tahun setelah peristiwa tragis itu, bisnis keluarga Salim mulai bangkit kembali. Mereka telah merambah ke sektor minyak dan gas bumi, konstruksi, dan perbankan, dan mengukir keberhasilan di bidangnya masing-masing.
