PEPO.ID - Bila kita berbicara tentang coklat batangan, mungkin yang pertama terlintas dalam pikiran adalah SilverQueen. Tahukah kamu, kisah kesuksesan SilverQueen erat kaitannya dengan Soekarno, lho! Bahkan mendunia hingga tampil di Konferensi Asia Afrika.
Cokelat asal Garut ini telah menjadi salah satu merek coklat yang sangat dicintai oleh masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Menurut Top Brand Index dari tahun 2015 hingga 2023, SilverQueen berhasil menjadi merek coklat batangan nomor satu.
Hal ini tentunya tidak lepas dari hubungan SilverQueen dengan Bapak Proklamasi, Soekarno. Namun, banyak dari kita mungkin mengira bahwa SilverQueen berasal dari luar negeri. Padahal, kenyataannya, SilverQueen adalah sebuah merek coklat yang berasal dari Garut
Bagaimanakah kisah kesuksesan SilverQueen, cokelat asal Garut ini dengan Presiden Soekarno hingga bisa mendunia dan mengharumkan nama Indonesia, bahkan sampai tampil di Konferensi Asia Afrika?
Kisah awalnya, SilverQueen berasal dari perusahaan yang bernama NV Ceres, yang juga merupakan nama dari pemiliknya yang berasal dari Belanda. Namun, pada tahun 1942, pemilik Belanda ini meninggalkan usahanya ketika Jepang menduduki Indonesia.
Pabrik yang ditinggalkan oleh NV Ceres kemudian diambil alih oleh seorang keturunan Tionghoa asal Burma bernama Ming Chee Chuang. Ini adalah awal dari perjalanan SilverQueen. Coklat batangan SilverQueen pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an.
Pada tahun-tahun awalnya, SilverQueen langsung menjadi sangat populer dan disukai oleh banyak orang. Salah satu hal yang membuat SilverQueen begitu istimewa adalah campuran antara coklat dan kacang mede.
Pada awalnya, campuran ini diciptakan untuk mencegah coklat SilverQueen meleleh dengan mudah dan menjadikannya lebih tahan lama.
Kepopuleran SilverQueen saat itu begitu besar sehingga Presiden Soekarno, yang menjabat pada saat itu, juga menjadi penggemar berat coklat ini.
Bahkan, Soekarno memesan SilverQueen dalam jumlah besar sebagai camilan untuk Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung pada tahun 1955.
Baca Juga: 5 Mitos Populer Suku Jawa Tentang Jodoh dan Pernikahan, Menyapu Tidak Bersih Nanti Suaminya Brewokan
Permintaan dalam jumlah besar untuk acara sebesar itu mendorong pabrik SilverQueen untuk pindah dari Garut ke Bandung, kota tempat KAA diselenggarakan.
Momen ini membantu SilverQueen dan bisnis Ming Chee Chuang untuk semakin terkenal dan diakui oleh masyarakat luas. Bisnis ini kemudian dikelola oleh anak-anak Ming Chee Chuang, yang mendirikan perusahaan induk bernama Petra Food.
Petra Food, yang merupakan perusahaan induk SilverQueen saat ini, juga menghasilkan berbagai produk lain seperti Delfi, Ceres, Top, dan banyak lainnya.
Selain itu, SilverQueen juga telah melakukan ekspansi ke berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Filipina, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Jepang.
Jadi, di balik kelezatan coklat SilverQueen terdapat sebuah cerita luar biasa tentang bagaimana sebuah merek lokal dari Garut, Indonesia, bisa menjadi salah satu merek coklat yang paling dicintai dan terkenal di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kisah kesuksesan SilverQueen dan Soekarno ini mengajarkan kita bahwa dengan dedikasi, kualitas, dan cinta pada produk, kita bisa meraih kesuksesan yang besar.
Baca Juga: Sejarah Hamas, Kelompok Militan Gigih Memperjuangkan Kemerdekaan Palestina dari Israel
Kisah kesuksesan SilverQueen juga mengajarkan kepada kita pentingnya dedikasi terhadap produk. Ming Chee Chuang, pendiri SilverQueen, dan anak-anaknya yang kemudian meneruskan bisnis ini, sepenuh hati mencintai produk mereka.
Mereka menciptakan coklat dengan kualitas terbaik dan mencampurkannya dengan kacang mede yang berkualitas tinggi, sehingga menciptakan produk yang tidak hanya lezat tetapi juga berkualitas tinggi.
Kesuksesan SilverQueen tercermin dalam ekspansinya ke pasar internasional. Meskipun berasal dari Garut, Indonesia, SilverQueen berhasil mencapai berbagai negara di seluruh dunia.
Ini adalah bukti bahwa produk berkualitas dari Indonesia dapat diterima secara internasional dan menjadi kebanggaan bangsa.
