PEPO.id - Animator asal Pakistan, Junaid Miran, kembali jadi sorotan publik pada awal September dengan kabar terbarunya. Ia menuding karyanya dipakai tanpa izin dalam film animasi anak Merah Putih One For All.

Menurut Junaid, karakter ciptaannya dijadikan bagian dari film tersebut tanpa persetujuan darinya. Hal itu membuatnya berencana mengambil jalur hukum.

“Aku siap menuntut mereka yang bertanggung jawab atas ketidakadilan ini. Aku melakukan ini karena kalian percaya padaku,” kata Junaid dalam video yang diunggah ke YouTube.

Baca Juga: Legenda Kelam Malin Kundang: Adaptasi Modern Kisah Rakyat Siap Tayang di Bioskop November 2025

Menurut Junaid, niatnya menggugat muncul setelah banyak warganet Indonesia mengirimkan pesan dan mendorongnya untuk menuntut keadilan. Banyak pihak meminta agar ia menuntut keadilan.

Namun, Junaid tidak menutup mata bahwa langkah hukum lintas negara membutuhkan biaya besar. Sebagai kreator independen, ia mengakui tidak memiliki sponsor maupun sokongan dana dalam menghadapi perkara ini.

“Tuntutan hukum di negara lain jelas sangat mahal. Biaya pengacara, administrasi, dan perjalanan tidak sedikit, sedangkan aku tidak punya itu,” ujarnya.

Baca Juga: Sinopsis Film M3GAN 2.0: Kembalinya Teror AI dengan Musuh Baru yang Lebih Mematikan

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Junaid mencoba langkah kreatif. Untuk menyiasatinya, Junaid memilih menjual 10 karya seni beresolusi tinggi hingga 6K miliknya.

Harga karya itu diturunkan secara drastis. Dari biasanya sekitar 50 dolar, kini hanya dibanderol 5 dolar per paket demi mendukung perjuangan hukumnya.

“Ini soal memberi semua orang kesempatan terlibat dalam perjuangan demi keadilan. Dengan 5 dolar, kalian dapat 10 karya seni 6K lengkap dengan hak komersial penuh,” jelasnya.

Baca Juga: Sinopsis Clown in a Cornfield: Teror Badut Frendo yang Menghantui Kota Kettle Springs

Langkah ini mendapat perhatian karena Junaid memberikan akses luas terhadap karyanya sebagai bentuk solidaritas. Ia ingin masyarakat ikut membantu perjuangannya.

Sementara itu, pihak produksi film Merah Putih One For All menanggapi tudingan tersebut dengan pernyataan berbeda. Produser Sonny Pudjisasono menegaskan tidak ada pelanggaran dalam filmnya.

Sonny menampik tudingan penggunaan karakter tanpa izin. Menurutnya, semua yang ditampilkan dalam film sudah melalui proses legal yang sah.

Baca Juga: The Life of Chuck: Kisah Mengharukan Tentang Hidup, Cinta, dan Akhir Dunia

Produser Sonny Pudjisasono menyatakan, bila ada pihak yang merasa dirugikan, mereka dipersilakan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Ia menyatakan terbuka menghadapi gugatan jika memang diajukan.

Kasus ini menyoroti isu plagiarisme dalam industri animasi yang semakin kompleks di era globalisasi. Para kreator kerap menghadapi tantangan soal perlindungan karya.

Dukungan publik terhadap Junaid juga menunjukkan pentingnya solidaritas kreator lintas negara. Banyak netizen Indonesia ikut menyuarakan keberpihakan padanya.

Baca Juga: Sinopsis Ballerina (2025): Kisah Balas Dendam Mematikan dalam Dunia John Wick

Film Merah Putih One For All sendiri sejak awal digadang sebagai animasi anak yang mengangkat pesan persatuan bangsa. Namun, kasus ini membuat perbincangan publik semakin hangat.

Dengan konflik yang terus bergulir, publik kini menunggu apakah Junaid benar-benar membawa kasus ini ke pengadilan internasional atau ada jalan damai yang bisa ditempuh.