PEPO.id - Bupati Bogor Rudy Susmanto mendorong optimalisasi lahan sawah tadah hujan agar dapat menghasilkan panen hingga dua kali dalam setahun. Upaya ini menjadi bagian dari strategi Pemerintah Kabupaten Bogor untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Selain mengoptimalkan lahan yang tersedia, Pemkab Bogor juga menyiapkan penguatan irigasi, sarana produksi, dan pendampingan bagi petani. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) diminta mendorong pola tanam yang lebih beragam, termasuk pengembangan komoditas baru seperti bawang.
Rencana tersebut dibahas Rudy dalam Rapat Evaluasi Kegiatan Tahun 2026 dan Rencana Kerja Tahun 2027 Bidang Pertanian dan Perkebunan di kantor Distanhorbun Kabupaten Bogor, Selasa (3/11/2026).
Optimalisasi sawah tadah hujan menjadi salah satu perhatian karena pemanfaatan lahan tersebut berkaitan erat dengan ketersediaan air. Dengan dukungan pengairan dan pengaturan pola tanam yang tepat, lahan diharapkan tidak hanya bergantung pada satu musim produksi.
Peningkatan frekuensi panen juga diarahkan untuk memberikan peluang tambahan pendapatan bagi petani. Di sisi lain, produksi yang lebih optimal dapat membantu menjaga ketersediaan pangan di Kabupaten Bogor.
Pendampingan petani dan penguatan sarana produksi
Pemkab Bogor turut menyiapkan sejumlah dukungan untuk menunjang kegiatan pertanian. Penguatan irigasi menjadi salah satu langkah yang didorong agar petani memiliki dukungan pengairan dalam mengelola lahan.
Pemerintah daerah juga mendorong penyediaan alat pertanian dan sarana produksi, disertai pendampingan untuk memperkenalkan komoditas yang berpotensi dikembangkan. Salah satunya bawang, yang masuk dalam rencana pengembangan pola tanam baru.
Dukungan tersebut berjalan beriringan dengan upaya memperkuat komoditas perkebunan unggulan Kabupaten Bogor. Kopi robusta yang telah dibudidayakan di sejumlah wilayah akan terus mendapat perhatian. Pemkab juga menyiapkan dukungan bibit jeruk lemon dan pala.
Untuk mengantisipasi risiko produksi, pemerintah daerah turut menyiapkan perlindungan bagi petani melalui asuransi gagal panen akibat kekeringan. Skema ini menjadi bagian dari dukungan agar petani memiliki perlindungan ketika kondisi cuaca mengganggu kegiatan budidaya.
Rudy menekankan bahwa penguatan sektor pertanian harus dirancang secara terencana dan melibatkan berbagai pihak. Menurutnya, pertanian bukan hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Jangan hanya melihat hasilnya hari ini, tetapi lihat dua sampai tiga tahun ke depan. Kita ingin setiap desa memiliki sentra buah dengan komoditas unggulannya masing-masing. Selain memberikan manfaat lingkungan, hasilnya nanti juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Rudy.
Kolaborasi lintas dinas untuk memperkuat sektor pangan
Selain peningkatan produksi di tingkat lahan, Pemkab Bogor juga menyiapkan pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan hasil panen, termasuk rice mill atau penggilingan padi. Fasilitas ini diharapkan membuat hasil panen dapat diproses lebih dekat dengan lokasi produksi sehingga biaya distribusi dan pengolahan bisa ditekan.
Dalam pelaksanaan program kerja 2027, Rudy meminta Distanhorbun memperkuat koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Peternakan serta Dinas Ketahanan Pangan. Penyelarasan lokasi dan jadwal kegiatan dinilai penting agar program lintas sektor dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Jangan berjalan sendiri-sendiri. Kita harus berkolaborasi, memastikan program tepat sasaran dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Mari kita bangun sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan dengan hati, kerja bersama, serta perencanaan yang matang,” pungkasnya.***







